Sejarah Padjadjaran Nasional
Gunung Jati Cirebon, disamping merupakan sumber / pusat pengembangan
agama Islam di jaman para wali khususnya di Jawa Barat, juga merupakan
cikal bakal / asal mula Ilmu Pencak Silat dibawa oleh para ulama /
santri yang mengemban tugas didalam pengembangan syiar agama Islam yang
sengaja dibekali untuk melengkapi dan melindungi diri dengan beladiri,
yang pada saar itu disebut Gerak Gulung Budi Daya. Adapun para wali
yang membawa misi pada waktu itu antara lain :
1. Pangeran Jaka Sembung,
2. Pangeran Gagak Lumayung,
3. Pangeran Sake, dan
4. Pangeran Surapati.
Mulai saat itu Ilmu Pencak Silat sangat dikenal dikalangan masyarakat Jawa Barat, dan akhirnya bermunculan perguruan-perguruan / aliran pencak silat, antara lain : Aliran Sera, yang pada dasarnya mengambil dari gerakan-gerakan yang senantiasa lebih banyak menunggu, yang artinya Tumamprah atau pasrah diri.
Kemudian muncul juga aliran yang disebut Cimande, adapun arti dan
pengertian asal kata Cimande adalah Cai Iman Anu Hade. Asal kata
tersebut disebabkan setiap para santri yang akan berlatih pencak silat,
diwajibkan / diharuskan mengambil air wudhu.
Dari tahun ke tahun semakin pesatlah perkembangan pencak silat
tersebut, bahkan betul-betul membudaya secara turun temurun sampai saat
ini. Hal ini dapat dibuktikan setelah kita coba mencatatnya antara
lain : ● Masih berdirinya Perguruan Pencak Silat Pusaka Karuhun, sampai
pada tanggal 12 Desember 1928 oleh Almarhum Eyang Guru K.H.Rd. Ahmad
Karta Kusumah dirubah dan berganti nama menjadi Perguruan Pencak Silat
Padjadjaran yang berpusat di Bogor.
Setelah Eyang Guru wafat, Perguruan Pencak Silat Padjadjaran
diturunkan kepada Almarhum Eyang Guru H.Rd. Abdullah, dan berikutnya
kepada Kakek Guru Almarhum Rd.Moch.Yusuf, untuk kemudian sebagai
penerusnya yang juga merupakan pewaris sekaligus sebagai Guru Besar
adalah Bapak Tubagus Mochammad Sidik Sakabrata (Abah Sidik).
Sejak masa inilah Perguruan Pencak Silat Padjadjaran mengalami jaman
keemasan, serta mengikuti arus perkembangan jaman modern.
Karena telah menjamurnya perguruan-perguruan pencak silat di seluruh
pelosok tanah air, maka pemerintah membentuk suatu wadah dinamakan
Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI), hal ini dimaksudkan untuk
penanggulangan dalam mengatasi bentrok-bentrokkan /
perkelahian-perkelahian diantara perguruan-perguruan. Dengan adanya IPSI
sebagai wadah dari seluruh perguruan yang ada di Indonesia, dan
dibuatnya ketentuan-ketentuan dan peraturan pertandingan, maka
perkelahian sesama perguruan dapat disalurkan melalui event-event resmi
yang diadakan oleh IPSI dengan peraturan tertentu. Dan semua perguruan
dapat bersaing secara sehat untuk menunjukkan prestasinya.
Dengan dibentuknya suatu wadah oleh Pemerintah, dan Perguruan Pencak
Silat Padjadjaran masuk didalamnya, maka mulai saat itu Perguruan
Pencak Silat Padjadjaran mempunyai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga, serta 7 (tujuh) butir janji setia perguruan, dan mengandung 4
(empat) unsur / aspek, yaitu :
1. Budaya,
2. Olahraga,
3. Beladiri,
4. Mental Spiritual.
Juga mempunyai kepengurusan pusat dan membuka cabang-cabang yang
tersebar diseluruh propinsi Indonesia, sampai pada akhirnya Perguruan
Pencak Silat Padjadjaran mendapat predikat Nasional, yang pada waktu
itu satu-satunya di Bogor yang berpredikat Nasional tersebut. Namun
walaupun Perguruan Pencak Silat Padjadjaran sudah bertarap Nasional,
tapi kitapun tidak lepas dari motto : Asih - Budi - Bakti - Sakti. Dan
tidak melupakan Siloka dari Sri Paduka Maharaja Padjadjaran, yaitu : Teu Padjauh Ku Paanggang, Urang Silih Dedengekeun Ngaran, Tuh… Molongpong Djalan Ka Padjadjaran Geusan Mulang Di Mangsa Datang. (Bahasa Siloka ini merupakan bahan untuk kita kaji).
Apabila ditelusuri silsilah dan menurut keterangan dari para Guru,
tokoh-tokoh persilatan, para leluhur, serta karuhun / nenek moyang
terdahulu gerakan yang lima pusaka / panca pusaka (Cimande, Sera,
Sahbandar, Cikalong, Depokan) ini sangat agung dan mulia serta manfaat
untuk mendapatkan keselamatan lahir batin, sebab apabila kita kaji dan
hayati secara seksama, sesungguhnya Pencak Silat tidak terpisahkan
dengan ilmu ketauhidan, selalu pasrah dan beribadah kepada Allah SWT
dan Rasulnya dalam mencapai kesempurnaan lahir batin.
Sedangkan tujuan dari Pencak Silat itu sendiri adalah : Pencak artinya
Panca Indera, Empat Ka lima Pancer, kenyataannya :
1. Jalannya pernapasan,
2. Jalannya pengucapan,
3. Jalannya penglihatan,
4.Jalanya pendengaran.
Keempat kenyataan inilah yang senantiasa harus kita jaga setiap saat,
jangan terpengaruh oleh berbagai hawa napsu yang bisa mengakibatkan
celakanya diri kita, akhirnya kita akan ingkar dari ketauhidan, kepada
Allah dan Rasulnya. Kelima pancer, pancernya hidup kita geraknya
jasmani dan rohani karena Allah SWT. Tanpa ridho dari yang Maha Kuasa,
kita tidak bisa apapun, tiada daya dan upaya.
(Disunting dari catatan Bpk. Amirullah Sudarman / Kang Emen dalam laporan Team 17 Hariangbanga)